Pages

Kelemahan Sepeda Motor Listrik


Dalam mengulas suatu produk, apapun itu, kita harus jujur. Tidak boleh selalu mengedepankan kelebihan, apalagi melebih-lebihkan. Kekurangan juga harus diungkap secara jujur agar tidak ada pihak-pihak yang dikecewakan di kemudian hari. Saya yakin artikel ini tidak menyurutkan minat berbagai pihak terhadap sepeda motor listrik, justru artikel ini ditujukan untuk mengedukasi masyarakat yang umumnya masih awam terhadap keberadaan sepeda motor listrik. Sehingga masyarakat makin mengenal dan akrab dengan sepeda motor listrik.

Tanpa basa-basi lagi berikut saya ulas beberapa kelemahan sepeda motor listrik (kebanyakan berdasarkan pengalaman pribadi) :

1. Usia Aki/Batere yang terbatas (± 2 tahun)

Aki atau batere merupakan komponen vital (selain dinamo) bagi sepeda motor listrik. Bisa dibilang aki merupakan jantung dan paru-paru bagi sepeda motor listrik. Tanpanya, sepeda motor listrik Anda hanyalah pajangan. Satu hal yang jarang diinformasikan oleh produsen molis adalah usia pakai (life time) aki dan berapa harga aki baru. Karena yang (mungkin) dikhawatirkan oleh produsen jika informasi ini diberi tahu ke calon konsumen akan menyurutkan minat untuk membeli sepeda motor listrik. Usia pakai dan harga aki untuk masing-masing merk sepeda listrik berbeda-beda, namun umumnya usia pakai tidak jauh dari 2 tahun, dan harga aki kurang lebih 1 juta rupiah. Jadi bagi Anda yang sekarang berminat membeli motor listrik, saya sarankan untuk :
  1. Mulai menabung untuk mengganti aki sepeda motor listrik anda 2 tahun mendatang. Rp. 50.000/bulan (Rp.1.200.000/2 tahun) saya rasa cukup.
  2. Sebelum membeli sepeda motor listrik tanyakan kepada produsen barapa usia pakai aki dan berapa harga penggantinya. Untuk antisipasi penggantian
Juga tidak menutup kemungkinan di kemudian hari hadir aki dengan teknologi yang lebih maju dengan usia pakai yang lebih panjang.

2. Kecepatan Maksimal yang Rendah (± 40 km/jam)

Di jalan raya, tidak dipungkiri kecepatan memegang hal penting. Terlalu pelan kadang mengesalkan, apalagi di jalan raya yang padat pengendara dan sesak dengan polusi. Rasa-rasanya ingin cepat sampai rumah dan tidak sabar dengan kecepatan 40 km/jam. Kecepatan yang saya maksudkan bukan dimaksudkan untuk ngebut-ngebutan, tapi untuk mendahului kendaraan lain yang kecepatannya lebih rendah dari kita (terutama kendaraan-kendaran besar yang sangat tidak nyaman berkendara di belakangnya). Berdasarkan pengalaman pribadi, saya ragu untuk mendahului trailer dengan kecepatan  ±35 km/jam, sedangkan kecepatan maksimal sepeda motor listrik saya cuma 40 km/jam (apalagi dengan akselerasi yang halus), kejadian seperti ini yang menjadi dilema. Jika harus membuntuti dari belakang paru-paru kotor, muka hitam, nafas sesak. Jika harus menyusul … sangat membahayakan, perlu ekstra hati-hati dan perhitungan. Well, kejadian seperti itu memang jarang terjadi, namun perlu diantisipasi sebelumnya agar tidak kecewa setelah membeli sepeda motor listrik dan menghadapi kejadian yang tidak mengenakkan di jalan raya. Satu lagi, dengan kecepatan rendah kita dipaksa berada di jalur kiri, yang terkadang jalan di jalur kiri lebih rusak daripada jalan yang ada di jalur kanan. Semoga molis-molis dengan kecepatan maksimal yang lebih tinggi bisa cepat hadir di Indonesia. 

3. Daya Tempuh Yang Terbatas (± 60 km)

Biasanya kemampuan daya tempuh adalah salah satu hal yang menjadi pertanyaan bagi sepeda motor listrik. Memang kemampuan daya tempuh saat full charge (atau full tank pada motor bensin) tidak mampu menyamai sepeda motor bensin yang sekali pengisian bisa mencapai ratusan kilometer. Terlebih lagi, untuk mengisi batere tidak cukup hanya beberapa menit seperti ketika kita mengisi BBM. Jadi jelas sepeda motor listrik bukan untuk alat transportasi jarak jauh, belum saatnya. Saya pribadi riskan jika harus mengendarai sepeda motor listrik ke tempat yang lumayan jauh, atau untuk keperluan keliling-keliling dalam kota. Jadi saran saya untuk pengguna, dan calon pengguna sepeda motor listrik :
  1. Rencanakan rute perjalan Anda sebelum berangkat dengan sepeda motor listrik, hitung jarak pergi pulang (gunakan google map untuk membantu menghitung jarak dari satu lokasi ke lokasi lain). Jika kemampuan molis Anda 60 km full charge jangan mengambil resiko berpergian dengan jarak lebih dari 50 km untuk safe-nya. Atau bagi Anda yang menggunakan molis untuk pergi pulang kerja, dan kebetulan kantornya cukup jauh dari rumah. Tidak ada salahnya meminta izin dari kantor untuk mencharge sepeda motor listrik Anda di kantor.
  2. Untuk perjalanan jarak jauh jangan gunakan molis, selain jarak tempuhnya yang pendek juga karena kurang nyaman mengendarai sepeda motor listrik yang kecepatannya rendah dalam waktu lama, apalagi di jalan raya yang banyak kendaraannya. Lebih aman memilih kendaraan umum atau kendaraan dengan BBM.
Namun untuk penggunaan sehari-hari, saya rasa jarang yang harus menempuh lebih dari 60 km setiap hari dengan kendaraan roda dua.

4. Waktu Pengisian Batere yang Lama (± 8 Jam)

Berapa waktu yang Anda butuhkan untuk mengisi full tank sepeda motor bensin (tidak termasuk mengantri di SPBU)? Rata-rata tidak sampai 5 menit untuk bisa digunakan beratus-ratus kilometer. Kontras dengan sepeda motor listrik yang untuk bisa full charge butuh waktu ber jam-jam. Jadi jika batere molis Anda habis, paling tidak harus menunggu 4 jam lagi untuk bisa digunakan. Jika habis nya di rumah sih tidak masalah, bagaimana jika habisnya di jalan? Kelemahan ini membuat sepeda motor listrik tidak selalu available, tidak bisa digunakan siang dan malam.

Hal ini menjadi PR bagi produsen sepeda motor listrik untuk meriset batere yang tahan lama sekaligus memiliki waktu pengisian ulang yang cepat.

5. Jaringan Dealer dan Bengkel Resmi yang Masih Langka

Memang sih sepeda motor listrik itu minim perawatan, tidak perlu ganti oli atau servis rutin karena memang komponennya tidak sebanyak motor bensin. Namun tetap saja yang namanya kendaraan dibawa kesana kemari beresiko mengalami masalah, entah karena kecelakaan atau pemakaian yang ceroboh. Selain itu jika pengguna molis ingin mengganti aki (yang pada suatu saat memang harus diganti) harus ada service center yang terjangkau. Untuk mengatasi kelangkaan service center, salah satu produsen motor listrik mengatasinya dengan mengirimkan teknisinya ke rumah (door to door).

Namun tetap saja konsumen merasa kurang puas jika di dekat lokasi tempat tinggalnya tidak terdapat service center yang bisa didatangi jika sewaktu-waktu sepeda motor listriknya mengalami gangguan. Bahkan faktor service center justru menjadi salah satu nilai jual produk kendaraan bermotor, terutama roda dua. Kelangkaan service center bisa menurunkan minat untuk membeli kendaraan roda dua.

Saya hanya bisa berharap, produsen sepeda motor listrik berani berinvestasi untuk memperluas dealer dan service center ke daerah-daerah yang dianggap potensial. Paling tidak jika pengguna molis sudah cukup banyak, produsen mau tidak mau, harus mengakomodir keinginan konsumen dengan mendirikan service center yang mudah diakses.

6. Desain Yang Tidak Sekokoh dan Secantik Motor Jepang

Rasanya kurang adil jika harus membandingkan sepeda motor listrik buatan dalam negri dengan sepeda motor bensin buatan Jepang. Dari segi harga dan manufaktur sudah terpaut jauh. Namun karena sepeda motor listrik berusaha merebut market share sepeda motor bensin (yang umumnya dari Jepang) sepertinya konsumen secara sadar atau tidak sadar pasti membandingkan desainnya. Apakah desainnya terlihat murahan? apakah sasis dan suspensinya kokoh? intinya konsumen selain mempertimbangkan kinerja kendaraaan, juga mempertimbangkan “how I look on the road“. Jadi paling tidak jika mengendarai molis di jalan raya tidak lantas menjadi minder.

Memang sih dari segi keindahan desain dan kekokohan body, sasis, dan suspensi motor listrik umumnya kalah dari motor bensin (ya jelas aja lah dari harganya aja udah beda). Tapi paling tidak ada beberapa produk molis yang memiliki tampilan dan body yang patut dibanggakan dan ga malu-maluin.

Selayaknya semua produk baru yang masih mencoba merebut hati masyarakat. Sepeda motor listrik masih dalam tahap awal pengembangan produk, dimana konsekensinya masih terdapat kelemahan disana-sini. Masyarakat diharapkan dapat memberi masukan konstruktif terhadap produk baru ini. Dan produsen diharapkan tidak hanya sekedar mencari keuntungan tanpa mendengar keluh-kesah konsumen dan calon konsumennya.

Selain kelemahan yang saya ungkap dalam tiga postingan ini mungkin ada kekurangan-kekurangan lain yang belum terpikirkan oleh saya. Tapi bagaimanapun juga, ide menggunakan sepeda motor listrik sangat layak untuk dipertimbangkan. Bayangkan saja jika di jalan-jalan setengah dari kendaraan roda dua adalah kendaraan tanpa polusi, tanpa suara, tanpa bisa ngebut-ngebutan. Rasa-rasanya wajah jalan raya akan menjadi lebih ramah. Posting ini terbuka bagi rekan-rekan yang memiliki unek-unek, masukan, atau kritik membangun terhadap sepeda motor listrik.

0 komentar:

Poskan Komentar